A PIECE OF PAPER



Daddy's Car: a song composed with Artificial Intelligence - in the style of the Beatles

Belakangan ini banyak sekali berita di media sosial mengenai bagaimana sebuah kecerdasan buatan bisa menggantikan peran manusia. Ancaman pada masa depan memberikan rasa takut kepada manusia akan teknologi yang mereka ciptakan sendiri. Seperti yang diberitakan di internet “kecedasan buatan (AI) diperkirakan akan menggantikan 85 juta pekerjaan pada tahun 2025”. 
Pekerjaan-pekerjaan seperti konstruktur, sopir, chef, bahkan barber kemungkinaan besar akan di gantikan oleh robot. 
Hal-hal yang bersifat seni pun bisa dilakukan oleh robot, seperti lukisan ini 


(portrait of Edmond belamy)

Lukisan ini dibuat oleh AI dan terjual dengan harga $432,500,. Lagu yang kamu play di blog ini di compossed oleh AI.
Elon Musk CEO dari Perusahaan SpaceX dan mobil Tesla pernah mengatakan dalam salah satu wawancara “Jika ada kecerdasan buatan super yang pengoptimalisasian dan fungsi kegunaannya merugikan manusia di kemudian hari, maka itu akan berdampak sangant buruk.”

Machine Learning atau Artificial Intelligence (AI) atau kecedasan buatan adalah bagian dari ilmu computer yang berfokus pada pembentukan mesin dengan kemampuan kecerdasan yang dapat  berinteraksi dan bekerja seperti layaknya manusia. Manusia belajar dari pengalaman begitupun dengan AI. 
Seorang pemain catur akan makin andal bila iya terus bermain catur dan cara AI kurang lebih seperti itu. 

Contohnya pada tahun 1997 ada pertandingan catur IBM Computer Deep Blue yang berhasil mengalahkan Garry Kasparov seorang Chess Grandmaster yang tidak pernah kalah sebelumnya, dan dia kalah dipertandingan ini setelah hanya dengan 19 gerakan.


Cara AI bermain adalah dia diberikan 100.000 pertandingan catur dan dia pelajari itu semua. Setelah AI itu belajar cara main catur dia akan main catur melawan diri dia sendiri. Setiap kali dia kalah, dia akan update cara dia bermain dan proses ini akan diulang samapai jutaan kali. Sama seperti manusia yang sering main catur, bedanya komputer bisa melakukan ini dengan cara yang jauh lebih dari efisien. di mana manusia hanya bisa main pertandingan dalam satu waktu, komputer bisa mesimulasi banyak pertandingan sekaligus. Pada akihrnya setelah di latih jutaan kali AI mampu mengalahkan Chess Grandmaster Garry Kasparov.
Hal misterius dari AI adalah kita tidak akan pernah tahu cara kerja AI tepatnya seperti apa.

Jadi apakah AI bisa menggeser peranan manusia?

Berawal dari mulanya perang Atalntik pada tahun 1939-1945 antara Inggris melawan Nazi Jerman. di mana pada saat itu Nazi Jerman mempunyai sebuah mesin super canggih yang diberi nama Enigma yang mampu membantai kapal-kapal dari Inggris mapun para sekutunya.
Sekilas mesin ini tampak seperti mesin tik pada umunya, tetapi ini bukan mesin tik Ini adalah alat pengacak pesan. Ketika Jerman akan melakukan penyerangan, semua kapal selamnya berkomunikasi melalui alat ini. Alat ini mempunyai cara kerja yang unik, ketika kita mengetikkan huruf-hurufnya di mesin ini, huruf-huruf di atasnya akan menyala secara acak berbeda dengan huruf yang ditekan. Rangkaian huruf acak inilah yang kemudian di broadcast melalui radio dalam sandi morse sehingga siapa pun yang mendengarnya tidak bisa membaca pesan nyasekalipun disadap. 


Mesin ini didesain supaya kode enigma tidak bisa dipecahkan sekalipun musuh memiliki mesinnya. Mesin ini memiliki mekanisme yang sangat kompleks, sekalipun memijat huruf yang sama berulang kali huruf yang menyala tidak pernah sama. Itu karena setiap tombol terhubung dengan rotor yang terus berputar untuk mengacak hurufnya setiap kali ditekan. Dan bukan hanya 1 rotor tetapi 3 rotor yang berbeda yang berputar secara bergantian. 
Tidak terbayang berapa banyak kemungkinan huruf acak yang dihasilkan oleh 3 rotor ini saja. Sebetulnya bukan hanya 3 rotor tetapi 5 rotor yang bisa dipilih berbeda dan bisa disusun berlainan. Tidak selesai sampai di situ, di bagian depannya juga terdapat Plugboard yang bisa dicabut colok untuk menghubungkan huruf yang satu dengan yang lain, sehingga huruf acak yang dihasilkan rotor bisa diacak lagi.

Mengagetkannya, kalau kalkulasi semua kemungkinan settingan mesin ini dengan rumus permutasi dari susunan rotor plugboard termasuk posisi awal rotor, ada 150 juta juta kemungkinan cara menyeting enigma. Sehingga untuk membaca kode enigma dengan mesin ini, harus menemukan satu dari 150 juta-juta juta kemungkinan. Ilustrasikan kalau ada 10 orang mencoba satu settingan per-menit dan mereka bekerja 7 kali 24 jam maka Butuh Waktu 20 juta tahun untuk mencoba semua settingan enigma. Dan Jerman selalu mengubah settingan enigma setiap hari di tengah malam.

Dari situ Inggris merekrut orang-orang genius untuk memecahkannya, salah satunya adalah Alan Turing. Alan Turing adalah seorang matematikawan yang terobsesi dengan mesin. Pada saat itu hanya ada mesin mekanik yang bekerja secara manual, belum ada Google maupun Excel dan Komputer bukan mesin tetapi orang yang pandai menghitung. Namun Alan Turing pada waktu itu sudah berpikir bagaimana menciptakan mesin yang bisa menghitung layaknya seperti manusia. Alan membuat sebuah jurnal tentang bagaimana menciptakan mesin yang bisa berpikir. Dia menyebutnya The universal computing machine yang hari ini kita menyebutnya komputer. Dan mesin inilah cikal bakal dari adanya AI.

Begitu dia direkrut untuk memecahkan enigma, yang pertama dia pikirkan adalah bagaimana teorinya ini bisa diwujudkan menjadi mesin sungguhan. Karena Turing berteori mesin tidak mungkin dipecahkan oleh manusia kecuali oleh mesin, mesin hanya bisa dikalahkan oleh mesin.

Bagaimana cara mesinnya bekerja itu sangat rumit namun poinnya adalah kerumitan enigma akhirnya bisa dipecahkan Alan Turing, karena dia dan timnya menemukan kelemahan enigma setelah dianalisis secara bahasa dan matematis. Salah satunya ternyata ada kata yang terulang pada kode enigma, dan kata-kata itu disembunyikan Jerman lewat laporan cuaca yang setiap jam 6 pagi diberitakan. Kata kunci inilah yang kemudian diinput pada mesinnya Turing dan mesinnya akan bekerja secara otomatis untuk menemukan settingan enigma. ketika di input kembali di mesinnya enigma pesan asli Jerman pun keluar.


Karena keberhasilannya mesin Turing pun diperbanyak dan pada akhirnya berkontribusi dalam memenangkan perang dan menyelamatkan jutaan nyawa dari serangan Jerman. Seiring berjalannya  waktu mesin Turing pun terus disempurnakan hingga menjadi prototype komputer yang ada sekarang.

Jadi balik lagi ke pertanyaan “apakah AI bisa menggeser peranan manusia?”

Sejatinya memang manusia tidak bisa mengalahkan mesin. Manusia memiliki keterbatasan yaitu waktu.
Seorang guru mungkin membaca 10.000 esai selama 40 tahun kariernya. Seorang dokter mata mungkin melihat 50.000 mata. tetapi mesin bisa melihat jutaan esai, jutaan mata dalam beberapa menit. Kita tidak mungkin bersaing dengan mesin pada level tertentu yang untuk manusia butuh waktu bertahun-tahun, komputer hanya butuh itungan detik.
Kita tidak dapat memilih kapan dan di mana perkembangan teknologi berhenti. Kita tidak bisa memperlambat. Justru kita harus mempercepat.
AI bukan menggeser peranan manusia tetapi AI hidup berdampingan dengan manusia. Kita mungkin tidak bisa tahu cara kerja AI, tetapi kita bisa berkerja sama dengan AI.
Mesin bisa menghitung, kita punya pemahaman. Mesin punya instruksi, kita punya tujuan. Mesin punya objektivitas, kita punya gairah.

Manusia mampu membuat AI dengan waktu yang sangat singkat yang dapat belajar cara main catur, samapi bahkan dia bisa mengalahkan pemain terbaik catur. Manusia mampu membuat mesin yang dapat memecahan teka-teki paling sulit di dunia yang kalau tanpa bantuan mesin butuh berratus-ratus tahun untuk memecahkannya.
Dan bagaimana kalau kita terapkan AI untuk menemukan solusi-solusi yang belum terpecahakn oleh manusia seperit masalah ekonomi, sosial, politik. Untuk menemukan obat penyakit berbahaya yang belum ada obatya seperti kanker, HIV/AIDS, dimensia. Yang kalau manusia cari solusinya mungkin butuh ribuan tahun tetapi dengan bantuan AI pasti akan jauh lebih cepat.

“Kita seharusnya tidak perlu khawatir akan kemampuan mesin sekarang, melainkan kita seharusnya khawatir akan ketidakmampuan mesin sekarang. Ada satu hal yang hanya manusia bisa lakukan yaitu mimpi. Jadi bermimpilah.” 
-Garry Kasparov

 

Source:
85 Juta Pekerjaan Lenyap di 2025, Siap-siap Ganti Profesi TECH - Novina Putri Bestari, CNBC Indonesia
Robot Lebih Pintar Daripada Manusia by Agung Hapsah
Deep Blue versus Garry Kasparov From Wikipedia
Cerita Yang Tanpanya Komputer Tidak Akan Ada!! (Pemecahan Kode Enigma) by Rumah
 Editor
Battle of the Atlantic from Wikipedia
Alan Turing: The Scientist Who Saved The Allies | Man Who Cracked The Nazi Code | Timeline by Timeline - World History Documentaries
158,962,555,217,826,360,000 (Enigma Machine) - Numberphile by Numberphile
The German cipher machine Enigma
Alan Turing from Wikipedia
Turing's Rules for the Imitation Game
The Imitation Game (2014) Movie
Don't fear intelligent machines. Work with them | Garry Kasparov by Ted




Play Song: Adele - Rolling in the Deep

Sering mendengan kata 'Toxic Relationship' istilah ini sudah tidak asing lagi dan mungkin beberapa dari kita pernah atau sedang berada dalam Toxic Relationship secara sadar maupun tidak sadar.

Secara singkatnya Toxic relationship adalah suatu hubungan yang tidak sehat yang dapat menyakiti salah satu pihak. Menurut J.A. McGruder dalam bukunya yang berjudul Cutting Your Losses from a Bad or Toxic Relationship, "hubungan toxic adalah kondisi di mana di dalamnya terdapat perilaku secara emosional yang dilampiaskan oleh seseorang kepada pasangannya dan bahkan perilaku ini dapat melukai fisik dan mental pasangannya "(McGruder, 2018).

Yang menjadi tanda tanya besar adalah mengapa orang bisa berada dalam Toxic Relationship dan mengapa rasanya susah sekali keluar dalam Toxic Relationship.

Perasaan dan logika adalah dua hal yang bersumber dari tempat yang sama yaitu kepala atau otak. Dalam otak terjadi banyak proses salah satunya bagaimana pikiran bekerja dan bagimana hormon bekerja. Mari kita bahas.

Ada bagian dari otak yang namanya VTA (Ventral Tegmental Area) yang mana ketika jatuh cinta dan memulai sebuah hubungan maka akan merasakan perasaan nyaman yang luar biasa euforia, kebahagiaan, dan perasaan impulsif. Perasaan-perasaan ini munculnya dari bagian VTA. Ketika jatuh cinta kinerja VTA meningkat dan memproduksi hormon dopamin (hormon yang menimbulkan efek candu). Efek dari dopamin inilah yang menyebabkan kenyamanan, kebahagiaan, euforia dan impulsif tadi. Maka dari itu mengapa hampir semua orang ketika memulai suatu hubungan merasakan kebahagiaan yang luar biasa, seakan semuanya akan baik-baik saja. 

Seiring berjalannya waktu hubungan akan makin dekat, makin intens, makin merasakan kenyamanan, ketertarikan dan lama-lama akan menjadi ketergantungan. penyebab dari semua itu adalah hormon Oksitoksin dan Vasoporessin. Kedua hormon ini mengirimkan rasa percaya, dukungan sosial, dan kasih sayang. Oksitosin juga berkembang dengan ikatan pertemanan yang erat dan keluarga. Itulah mengapa kalau sedang bermasalah dalam masalah akan terasa jauh lebih ringan, akan jauh lebih rileks ketika menghabiskan waktu dengan orang-orang yang kita sayangi, termasuk pasangan. Produksi oksitosin Ini akhirnya menjadi penghambat perkembangan hormon stres (hormon kortisol).

Dopamine yang diproduksi ini ternyata menimbulkan efek negatif bagi bagian otak yang lain yaitu Prefontal Cortex. Bagian yang bertanggung jawab pada kemampuan kognitif. Bisa masuk akal mengapa ketika kita bilang saat sedang jatuh cinta sulit sekali menggunakan akal sehat. Maka dari itu ada yang bilang kalau belum ngerasa bego berarti belum jatuh cinta. 

Selain berpengaruh pada Prefrontal Cortex, dopamine juga berperan dalam penipisan hormon yang lainya yaitu hormon Serotonin. Serotonin yang menipis ini akan berdampak pada mood yang tidak stabil, kecemasan, gangguan makan, dan bahkan perasaan obsesi.
Ketika manusia sudah merasakan obsesi itu benar-benar jadi buta. Sampai bisa membenarkan hal yang salah dan menghiraukan hal-hal yang sebenarnya sudah jadi red flag dalam hubungan.

Lalu ketika patah hati, sakit hati, dikecewakan dan ditinggalkan maka semua rasa sakit itu akan mengaktifkan bagian otak ya namanya Insular Cortex karena bagian otak inilah yang memproses rasa sakit itu dan ketika dia aktif perasaan itu sangat tidak nyaman.
Kita akan merasakan kewalahan, kegalauan, kegusaran. Dan ketika semua bentuk ketidaknyamanan ini di rasakan, akhirnya mengenang lagi memori-memori yang meningkatkan dopamin dahulu awal-awal pertemuan. Bagaimana perlakuan dia dahulu dan lain sebagainya. Akhirnya ketika merasakan Kerinduan tersebut kinerja VTA itu kembali meningkat dan dia menuntut dopamin Lagi dan lagi. Dan itu menimbulkan ketidaknyamanan yang sangat luar biasa di tubuh. Ini yang menyebabkan mengapa kita terusmenerus memaafkannya, merasa bahwa kita membutuhkannya dan menganggap semua bisa diperbaiki padahal nyatanya tidak,

Di sinilah titik krusialnya saat aktivitas VTA meningkat lagi, rasa rindu muncul lagi walau sudah disakitin sekalipun. Kita akan sangat menikmati sedikit saja perlakuan baik dan perhatian dari orang yang udah memberikan rasa sakit itu kepada kita. Dan akhirnya kita mulai membuat alasan-alasan yang tidak masuk akal, misalnya 'Yang ngertiin dia cuman aku' 'Mungkin aku yang salah' 'Mungkin aku yang kurang' 'Kalau bukan aku siapa lagi' 'Mungkin aku harus sedikit bersabar' 'Mungkin aku harus lebih mengenal dia'  'Mungkin dia akan berubah' sampai sudah di titik mengabaikan pendapat orang lain yang bilang kalau you can fix someone dan kamu keep trying dan semuanya terasa makin menyakitkan. Pada akhirnya terjebak dalam siklus yang berulang, Itulah mengapa lepas dari Toxic Relationship itu sangat-sangat susah. Sama seperti orang-orang yang mencoba lepas dari ketergantungan rokok dan narkotik. 

Maka dari itu ketika ada orang yang berada dalam hubungan Toxic kita tidak bisa nge-judge segampang itu. Kalau peduli bisa coba bantu dia cari distraksi, cari kenyamanan, cari ketenangan karena memang tidak mudah. Ada prosesnya dan semuanya itu tidak akan pernah bisa berhasil tanpa tekad yang kuat. Karena balik lagi semua ini bukan berdasarkan standar pribadi seseorang atau moralitas seseorang tetapi reaksi biokimiawi yang ada di dalam tubuh kita.

Dan hal paling penting lainnya otak kita ini di desain dengan sangat luar biasa. Otak kita selalu dirancang untuk terus bertahan hidup dan beradaptasi. Ketika kita bisa melewati masa-masa ini maka otak akan berfungsi normal seutuhnya. Yang perlu dilakukan adalah bersabar.

Seperti kisahnya Raja Solomon di mana dia memberikan para penasihatnya sebuah tugas bagaimana menemukan cara untuk membuat dia senang ketika dia sedih, atau membuat dia sedih ketika dia senang. Para penasehatnya berpikir cukup lama dan akhirnya menemukan sebuah solusi. Tidak, solusi mereka bukanlah sebuah mesin yang rumit atau sesuatu yang berupa fisik. Sebaliknya, solusi mereka adalah sebuah kutipan.

"This too shall pass"
(Inipun juga akan berlalu)

Solusi dari para penasehatnya berhasil. Setiap kali Raja Solomon mendapati dirinya terlalu bahagia, dia ingat bahwa momen yang sedang dia nikmati berlalu dengan cepat. Disaat yang sama, ketika Raja Solomon mendapati dirinya sedang sedih, kutipan itu mengingatkannya bahwa kesedihannya hanyalah sementara.

Kutipan ini mengajarkan untuk menikmati setiap momen yang ada. Kita mungkin berada di titik paling terendah dalam hidup, tetapi kesedihan itu tidak permanen. Begitupula sebaliknya, saat kita merasa kebahagiaan, kutipan itu menunjukkan bahwa kebahagiaan tidak akan berlangsung selamanya. 

Kita tidak bisa denail terus-menerus, kita harus sadar ini masalah dan buka masalah yang ringan. Kita tidak akan pernah menemukan solusi dari satu masalah kalau mengidentifikasi masalahnya saja sudah gagal. Jadi terima rasa sakit itu, hadapi rasa sakit itu, isi waktu dengan hal-hal yang bermanfaat. Buat hal-hal yang membuat tenang, hal yang membuat nyaman. Entah itu menghabiskan waktu dengan orang-orang terdekat, ngobrol dengan temen, menjalani hobi, atau bahkan beribadah kalaupun beribadah bisa membuat tenang. 
Karena aku selalu percaya tidak ada badai yang tidak usai. Cepat atau lambat tiap luka akan pulih dan mengering. Mungkin meninggalkan bekas tetapi tidak lagi menyakitkan selama percaya hari itu akan datang.


Source:
Mengapa Kita Selalu Bodoh saat Jatuh Cinta? (Explained) Ferry Irwandi
Anatomy and Function of Ventral Tegmental Area Glutamate Neurons
Dopamine
Oxytocin
Vasopressin
Cortisol
Prefrontal Cortex
Serotonin
Insular Cortex
What Is a Toxic Relationship?




Play Song: Linkin Park - Numb

Hai semua, waktu ngga kerasa sudah tahun 2023 aja. Sekarang ini aku sedang liburan semester dan kegiatan favorit ku selama liburan tak lain dan tak bukan adalah nonton, makan, dan main (the real beban).

Dan akhir-akhir ini aku sedang nonton drama Korea yang judulnya My Liberation Notes. Aku suka sekali drama ini karena genrenya itu slice of life, cocok denganku yang maunya live in reality. Jadi, gak ada tuh para flower boy dengan logika seujung kuku kalau jatuh cinta.

Yang menarik dari drama ini dan iinginku bahas adalah satu dialog antara pemain utama yang membuatku cukup menarik dan mengingatkan banyak hal.

dialognya seperti ini


"Dahulu, aku pernah melihat TV. 

Bahwa, ada jurang yang sering dipakai untuk bunuh diri di Amerika. 

Lalu, ada yang mewawancarai orang-orang yang selamat setelah melompat. 

Jawaban mereka semua sama, jika sudah terjatuh sampai dua pertiga jurang itu, apapun yang membuatmu ingin bunuh diri terasa sepele. 

Padahal sampai beberapa detik lalu, kau merasa harus mati agar masalahmu selesai.

Namun, hanya dalam beberapa detik perasaan itu mulai terasa sepele. 

Kukira dia akan merasa begitu juga. 

Jadi, kukatakan kepadanya "bagi orang yang merasa hidupnya begitu menyiksa, mendapatkan terapi tanpa perlu melompat dari jurang mungkin akan membuatmu merasakan seperti apa rasanya melompat dari sana. 

Jadi, kau harus menemui Psikiater" aku bilang itu padanya. 

Namun, dia malah melompat dan mati"


Memang butuh waktu beberapa kali bagi beberapa orang termasuk aku untuk mencerna dialog ini karena kalimatnya menggunakan dua perbandingan.

Dalam dialog ini, Mr. Gu yang diceritakan sebagai laki-laki pendiam yang irit bicara, bercerita kepada Yeom Min Jeong tentang masa lalunya. Dia meberitahu tentang mantan kekasihnya yang menderita depresi berat. Orang yang sedang mengalami depresi berat tanpa mereka sadari, mereka selalu terdengar seperti mengeluh kepada orang yang dipercayainya. Sebagai gambaran, Mr. Gu bukanlah laki-laki yang suka mendengarkan orang lain bahkan untuk hal-hal sepele sekalipun. Dia benci kehadiran orang lain ditambah lagi mantannya yang setiap hari mengeluh membuat dia semakin  muak. Mr. Gu mempunyai masalah depresi yang dia lampiaskan dengan cara minum alkohol sebanyak-banyaknya. Karena dia merasa saat dirinya mabuk saat itu juga dirinya benar-benar sadar. Sebagai alkoholik yang apatis dengan perasaan orang lain, dia berusaha membantu pacarnya saat itu agar bisa terbebas dari depresi. Dia ingin pacarnya juga punya pelampiasan untuk depresinya selayaknya dia punya alkohol untuk membuatnya tetap waras.

Dia menyuruh pacarnya untuk pergi ke Psikiater dengan menggunakan perbandingan cerita dokumenter melompat dari jurang. Kata-kata melompat dari jurang bisa juga sebagai metafora dari mencari bantuan atau diartikan mentah-mentah seperti menyuruh untuk bunuh diri. Bagi Mr. Gu, disini dia hanya ingin pacarnya pergi ke Psikiater. Dia tau seperti apa rasanya depresi dan selalu dihantui perasaan ingin mati. Tapi, dari apa yang pernah dia tonton perasaan ingin mati itu hanya sebuah ilusi, jika dia benar-benar melakukan bunuh diri dengan cara melompat dari jurang maka masalahnya akan terasa ringan. Dia memberikan saran kepada pacarnya untuk melompat ke jurang atau pergi ke Psikiater. Semuanya punya efek yang sama yaitu keadaan dimana pikiran kita mulai mendoktrin kalau masalah kita itu sepele.

Sayangnya, pacarnya itu memilih untuk bunuh diri dengan cara melompat. Baginya, lebih mudah melompat daripada pergi ke Psikiater. Orang depresi selalu merasa lelah bahkan saat dia tidak melakukan apapun. Pergi ke Psikiater dan menceritakan masalahnya, memikirkan sesuatu yang dia tidak tau dimana sebabnya, itu semua hal yang sulit bagi orang depresi. Ditanya apa yang sebenarnya terjadi padahal dia sendiri tidak tau dengan apa yang terjadi dalam dirinya. Jiwanya seperti mati lampu sehingga dia harus meraba-raba bagian-bagian sensitif untuk mencari dimana letak lukanya itu. Pergi ke Psikiater juga membuatnya harus meminum obat penenang yang efeknya juga berat. Bangun pagi melihat matahari saja terasa sulit apalagi harus berjalan dan meminum obat hanya untuk menenangkan dirinya. Baginya, lebih mudah untuk melompat dan mati toh keduanya memiliki hasil yang sama. Untuk apa susah payah memiliki pikiran yang tenang dengan pergi ke Psikiater jika ia punya pilihan tinggal lompat saja dari jurang. Hal ini tidak Mr. Gu pertimbangkan sebelumnya, jadi walaupun dia berniat menyelamatkan pacarnya dari jurang depresi tanpa sengaja dia justru mendorong pacarnya masuk ke jurang tersebut.

Majas metafora terdengar seperti kalimat perintah bagi orang yang pikirannya sedang berada di dalam kegelapan. Kita bisa mengatakan ratusan kalimat positif dan mungkin nantinya hal itu akan terdengar seperti toxic positivity dan ketika kita mengatakan hal buruk maka efeknya bisa jauh dari apa yang kita perkirakan. Kurang lebih rasanya seperti makan buah simalakama. Dalam kasus ini, kita ngga bisa 100% menyalahkan Mr. Gu karena pikirannya juga berada dalam kegelapan. Dia membantu dengan apa yang dia tau dan perlu diketahui juga kalau Mr. Gu tidak punya latar belakang pendidikan dalam bidang psikologi atau kejiwaan manusia. Jadi, dia akan mengatakan apa yang dia tau berdasarkan pengalamannya dan hal itu bersifat subyektif.

Hal itu sama seperti orang-orang yang menganggap bahwa mendidik anak dengan kekerasan dapat membantu anak untuk menjadi lebih kuat, padahal tidak sama sekali. Lagi-lagi kalimat seperti itu keluar karena mereka tidak mendalami ilmu psikologis dan kejiwaan. Mereka secara subyektif mengatakan hal tersebut karena menganggap apa yang mereka alami merupakan sebuah kebenaran absolut yang juga berlaku untuk semua orang.

Dari dialog diatas, mengingatkanku akan kasus di Amerika yang kurang lebih sama. Michelle Carter dipenjara kurang lebih satu tahun karena menyuruh kekasihnya (Conrad Roy) untuk bunuh diri. Pengadilan menjatuhkan sanksi penjara baginya karena telah menuntun secara detail kekasihnya untuk bunuh diri.

Dalam salah satu pesan teks, Carter menyindir Roy yang selalu mengatakan untuk bunuh diri tapi Roy tidak pernah benar-benar melakukannya. Adrenalinnya terasa dipermainkan, satu waktu Roy akan mengatakan bahwa dia akan menghilang dan tidak ditemukan lagi dan beberapa saat kemudian Roy datang lagi dan mengatakan bahwa dia berubah pikiran. Terus aja seperti itu. Untuk orang yang juga memiliki masalah kesehatan mental, mendengarkan orang lain yang selalu mengatakan untuk bunuh diri pasti melelahkan. Terdengar jahat tapi memang seperti itu. Namun, bagi orang yang mengalami depresi didengarkan aja rasanya seperti diberi kemewahan. Roy mengajak Carter untuk bunuh diri bersama namun Carter menolak. Akhirnya Roy bunuh diri dan Carter dihukum atas keputusan itu. Kasus ini lebih rumit dari apa yang gue tulis secara singkat ini.

Antara apa yang aku tonton di drama tentang Mr. Gu dan apa yang aku baca tentang Carter keduanya memiliki alur yang hampir sama tapi tujuan yang beda. Mr. Gu muak mendengar pacarnya selalu mengeluh setiap hari, dia saja menjadi seorang alkoholik agar bisa lepas dari depresi. Begitupun Carter, dia diresepkan obat oleh Psikiater yang mana artinya untuk dirinya sendiri saja dia butuh bantuan untuk menjalani hidup ditambah lagi dirinya harus menjadi support system bagi pacarnya yang mengalami hal yang sama. Beban ganda ada dipundaknya yang menuntunnya menjadi seseorang yang kejam. Bukan malah sembuh bersama, keduanya malah sama-sama menggali kuburannya sendiri. Semua orang menyalahkan Carter atas kematian Roy tapi pengacaranya membantah bahwa selama dua tahun sebelumnya Carter sudah berusaha membantu Roy yang selalu ingin bunuh diri tapi sepertinya Roy berada dalam jurang tak berdasar sehingga sangat sulit baginya untuk ditolong. Dalam My Liberation Notes, kakak dari pacarnya Mr. Gu menyalahkan Mr. Gu atas apa yang terjadi tanpa melihat bahwa dirinya sebenarnya hanya ingin memberi saran. Dia bukan orang yang suka berbicara dan mendengarkan keluhan setiap hari membuatnya merasa seperti disiksa. Mr. Gu ingin membantu padahal dia sendiri butuh bantuan. Pada akhirnya niat membantu itu malah berujung pada petaka yang semakin membuatnya tumbuh menjadi seseorang yang pendiam. Saat pacarnya meninggal, Mr. Gu tidak menangis sama sekali. Pikirannya campur aduk antara menyalahkan kata-katanya atau merasa lega karena beban gandanya berkurang satu.

Dialog itu sangat berkesan bagiku karena aku pribadi merupakan orang yang dikelilingi dengan orang-orang yang mengalami perasaan seperti berada dalam kegelapan. Berbeda dengan banyak adegan drama Korea lainnya yang diceritakan sebagai cerita tidak masuk akal dan jauh dari realita tapi nyatanya dialog diatas seperti memberikan kenyataan yang ada di masyarakat. Di beberapa media sosial selama beberapa tahun belakangan, memiliki masalah kesehatan mental menjadi bahan romantisasi tapi dialog diatas justru membuktikan sebaliknya dan hal tersebut pernah juga terjadi dalam kehidupan nyata yang dicerminkan seperti kasus Roy dan Carter. Tanpa kita sadari, terkadang apa yang kita katakan bisa berdampak negatif kepada orang lain.

Source:

My Liberation Notes Ep. 9 menit ke 45

Death of Conrad Roy



    




Play Song: Jason Mraz - I'm Yours

    Definisi dari kebahagiaan itu subjektif ternyata, semua orang punya cara pandang tersendiri untuk mengartikan kebahagiaan. Menurut Wikipedia "kebahagiaan atau kegembiraan adalah suatu keadaan pikiran atau perasaan yang ditandai dengan kecukupan hingga kesenangan, cinta, kepuasan, kenikmatan, atau kegembiraan yang intens." Hal-hal seperti kecukupan, kesenangan, cinta, kepuasan, kenikmatan, atau kegembiraan itu beda-beda di setiap orang, dan mendefinisikannya pun berbeda.

    Menurutku kebahagiaan itu persepsi, persepsi kita menanggapi suatu hal. Karena sejatinya manusia sebagai makhluk biologis tidak memproduksi kebahagiaan. 

   Dalam neurosains ada yang namanya sirkuit otak (sirkuit papez), sirkuit otak terbagi menjadi dua, yaitu neurologis dan intelektual. Kebahagiaan ngga ada dikeduanya, kebahagiaan itu adalah rekayasa neurologis yang dibuat oleh manusia tanpa ada dasar yang jelas.

    Itulah kenapa aku bilang kebahagiaan itu persepsi. Kalau kita tanya definisi kebahagiaan dari orang yang kelaparan jawabannya pasti rasa kenyang, dari orang kehilangan jawabannya pasti kehadiran, dari orang kedinginan jawabannya pasti pasti kehangatan. Dan saat keinginan itu sudah terpenuhi apakah definisi kebahagiaannya masih sama? 

  Saat kita tidak punya uang, kita berpikir bahwa menjadi orang kaya merupakan hal yang membahagiakan, saat kita punya mimpi, kita berpikir bahwa impian akan tercapai merupakan hal yang membahagiakan, tapi berapa banyak orang kaya yang stress akan kekayaanya, berapa banyak penyanyi, idol, artis yang bunuh diri karena impiannya.

    Kita selalu menggantungkan kebahagiaan pada faktor eksternal. Pada keluarga, pada pasangan, pada anak, pada barang-barang impian yang sifatnya bukan berada dibawah kendali kita. Berekspetasi tinggi dengan sesuatu yang mana realita tidak semulus apa yang kita inginkan. Kecewa, marah sedih dan terus rakus mencari kebahagiaan sampai lupa caranya bersyukur.

    Kebahagiaan itu bersifat semu, rapuh tidak pernah bertahan lama. Yang mana artinya kebahagiaan itu hanya sebagian kecil dari diri manusia. Melalui persepsi kebahagiaan bisa didapatkan dengan mudah, dengan merasa cukup dan jujur terhadap diri sendiri. Menerima diri dan keadaan merupakan suatu hal yang penting untuk menumbuhkan persepsi kebahagiaan.

    Tapi pada kenyataannya merasa cukup bukan soal mudah, karena itu bertentangan dengan sifat naluriah manusia yang tidak pernah merasa cukup. Manusia akan terus mencari rasa kebahagiaan yang ternyata semua itu ilusi. Kita ngga pernah gagal untuk menemukan kekurangan tapi kita selalu gagal untuk melihat kelebihan.

    Sama halnya dengan kejujuran, manusia itu hobinya menyangkal isi hati. Apa yang kita rasakan, kita alami, ditutupi oleh kepalsuan yang kita ciptakan sendiri. Bersandiwara seakan baik-baik saja, selalu menyangka, menutup rapat-rapat suara hati semata-mata demi memenuhi ego diri sendiri.  

    Hal yang ingin aku sampaikan adalah kebahagiaan itu bukan suatu hal yang harus kita cari, tapi melalui persepsi kebahagiaan itu bisa kita ciptakan. Dengan tidak berekspetasi dengan pada faktor eksternal dan jujur pada diri sendiri. Tidak takut untuk menjadi apa adanya, tidak takut menghadapi realita, tidak takut menghadapi konsekuensi dan terus menghadapinya dengan lapang dada.

    Apakah sekarang aku bahagia? bisa dibilang aku bahagia. Iya.. walaupun ngga setiap hari aku ketawa, ceria, bersorak-sorak kayak orang habis dapet tiket Haji gratis, tapi aku merasa aku berdamai dengan diri sendiri dan aku bisa merasakan kebahagiaan melalui persepsi.

    Aku selalu bilang sama diriku senfiri bahwa bahagia bukan apa yang telah aku capai atau apa yang aku dapatkan but when I can control well what can i control.
Karena kebahagiaan itu bukan tanggung jawab orang lain untuk membahagiakan kita tapi tanggung jawab diri kita sendir.

^_________^

Persepsi: indakan menyusun, mengenali, dan menafsirkan informasi sensoris guna memberikan gambaran dan pemahaman tentang lingkungan. Persepsi meliputi semua sinyal dalam sistem saraf, yang merupakan hasil dari stimulasi fisik atau kimia dari organ pengindra.

Neurosains: satu bidang kajian mengenai sistem saraf yang ada di dalam otak manusia. Neurosains juga mengkaji mengenai kesadaran dan kepekaan otak dari segi biologi, persepsi, ingatan, dan kaitannya dengan pembelajaran.

Sirkuit otak (sirkuit Papez): suatu jalur utama pada sistem limbik di otak besar dan berperan pada korteks otak besar untuk mengontrol emosi.


Play song: Radiohead - Karma Police

Tanggal 10 Desember 2021 Indonesia dikejutkan oleh berita tentang 12 santriwati diperkosa oleh gurunya sendiri.
Semua orang pastinya kaget, marah, dan kesal dengan kejadian tersebut, bahkan sampai sekarang pun masih bertanya - tanya kok bisa ada manusia sebejat ini? Kok bisa ada manusia sebiadab ini? kok bisa ada manusia setidak waras ini?

Bagaimana bisa seseorang tega melakukan tindakan pemerkosaan pada belasan anak dengan rata - rara usianya 13 tahun. Menurut Liputan6, saat ini dua di antara para korban yang sedang mengandung, telah lahir sembilan orang anak, bahkan seorang korban telah dua kali melahirkan anak. Anak-anak yang dilahirkan oleh para korban diakui sebagai anak yatim piatu dan dijadikan alat oleh pelaku untuk meminta dana kepada sejumlah pihak. Tidak hanya itu para korban dipaksa dan dipekerjakan sebagai kuli bangunan untuk membangun pagar di pesantren tersebut. Tindakan bejat ini sudah terjadi sejak tahun 2016 hingga 2021.

Miris, yang mana seharusnya pendidik sebagai orang yang dapat mencerdaskan moral dan akhlak peserta didiknya, tapi malah pendidiknya yang tidak bermoral dan tidak berakhlak. Kita semua pastinya paham betul bahwa tindakan pemerkosaan terhadap anak - anak tersebut adalah tindakan kriminal yang patut dihukum seberat - beratnya.

Tapi ada satu hal yang membuat ku sedih, amat sangat disayangkan bahwa ada sebagian orang dengan pemikiran judgemental terhadap para korban, yang mana seharusnya dapat berempat terhadap keadaan korban tapi malah lebih berfokus pada apa yang seharusnya korban lakukan. Alih-alih menanyakan keadaan korban, apa yang mereka rasakan sekarang dan semacamnya ada sebagian orang yang malah berargumen seperti:

"Kenapa ngga dari dulu lapornya, selama 5 tahun itu kok gak pernah lapor, kok anak - anak ini gak pernah ngomong sih ke orang tuanya, saya kalau jadi mereka saya gak bakal diem aja pasti saya udah lapor, saya kalau jadi mereka pasti bakal berontak."  hadeh...

Mungkin ada sebagian orang yang tidak tahu bahwa realitanya tidak semudah apa yang terpikirkan, karena faktanya tidak ada yang tau respon seseorang terhadap sesuatu itu bagaimana. 
Orang - orang ini seakan meremehkan tindakan korban saat korban dilecehkan, dan apakah benar mereka akan berperilaku demikian saat mereka ada pada situs tersebut? Apakah mereka akan langsung melapor, langsung reaktif, langsung bertindak seperti yang merekan katakan ketika mereka mengalami kejadian - kejadian tersebut?

Karena sering kali ketika berbicara tentang pelecehan seksual, misalnya kita akan menempatkan situasi kita sedang mengalami pelecehan tersebut pikiran kita akan "gila pasti saya marah banget, saya pasti berapi - api" tapi terkadang kita lupa bahwa kita akan dilanda rasa takut. 
Pelecehan seksual itu persoalan intimidasi, soal pelaku yang mengintimidasi korbannya secara seksual dan dalam situasi intimidasi tersebut ada ketimpangan kuasa, ketimpangan power di mana korban akan merasa takut.

Dan biasanya bila seseorang berada di situasi yang menakutkan tidak banyak orang yang bisa langsung reaktif, pasti kebanyakan diam, shock, ngga tau harus ngapain, bingung, kaku dan sebaginya.
Makanya agak heran, ketika ada orang yang mempertanyakan bahkan meragukan legitimasi pelecehan seksual yang terjadi kepada seseorang ketika korban akhirnya memutuskan untuk melapor setelah sekian lama.

Studi yang dilakukan oleh beberapa peneliti menyebutkan bahwa di skenario pelecehan seksual yang secara hipotesis, biasanya orang - orang akan melaporkan atau bahkan mengkonfrontasi pelaku. Tapi pada kenyataannya berbeda, korban pelecehan seksual jarang ada yang reaktif, jarang ada yang langsung lapor, dan jarang ada yang berani untuk mengkonfrotasi.

Sebenarnya persoalan ini sangat manusiawi, karena kalau berbicara tentang kita yang bisa menjadi judgemental atau salah paham terhadap situasi orang lain, terhadap reaksi orang lain, atau keputusan orang lain itu karena kita cenderung untuk memproyeksikan apa yang kita pikirkan dan apa yang kita rasakan ke orang lain, padalah semua itu personal.
Dan ketidak sadaran atas eksistensi dari faktor personal yang bikin kita sulit untuk berempati kepada orang lain, kita jadi suka meremehkan perilaku orang lain, kita gampang bilang "kalau aku sih gak mungkin kaya gitu ke orang lain". Ibaratnya jangankan untuk ke orang lain, kita saja masih kadang salah mempredeksi bagaimana kita akan berlaku di momen - momen tertentu. Bagaimana kita akan bertingkah laku ketika kita sedang takut, sedih, atau marah.

Namun bagaimanapun juga tindakan judgemental terhadap korban pelecehan seksual itu salah, yang mana seharusnya kita bisa memvalidasi apa yang mereka rasakan bukannya malah mempertanyakannya. Korban yang dirugikan, korban juga yang di sudutkan, kan sakit.

^_________^

Judgemental : Perilaku yang selalu berkomentar tentang segala hal, dan ingin orang lain tahu bagaimana pendapatnya. Ketika ada opini yang berbeda, ia bisa marah, dan yang semula obrolan ringan bisa berubah jadi ajang debat kusir. Orang yang punya sifat suka menghakimi, hobi sekali mengkritik orang lain.

Empati : kemampuan untuk merasakan keadaan emosional orang lain, merasa simpatik dan mencoba menyelesaikan masalah, dan mengambil perspektif orang lain.

Intimidasi : Perilaku yang akan menyebabkan seseorang yang pada umumnya akan merasakan takut cedera atau berbahaya.

Legitimasi : Adalah penerimaan dan pengakuan atas kewenangan yang diberikan oleh masyarakat kepada pimpinan yang telah diberikan kekuasaan. Sumber legitimasi telah berubah dari sudut pandang kekuatan fisik dan militer menjadi dukungan dari masyarakat secara masif. 

Studi : Adalah pembelajaran, kajian ilmiah

Hipotesis : atau anggapan dasar adalah jawaban sementara terhadap masalah yang masih bersifat praduga karena masih harus dibuktikan kebenarannya. Dugaan jawaban tersebut merupakan kebenaran yang sifatnya sementara, yang akan diuji kebenarannya dengan data yang dikumpulkan melalui penelitian. 

Konfrontasi : sebuah konflik antara dua belah pihak.

Memproyeksikan di KBBI adalah : memberikan gambar suatu benda yang dibuat rata (mendatar) atau berupa garis-garis pada bidang datar

Personal : Adalah perseorangan yang bertindak untuk diri sendiri yang berkaitan dengan pembuktian kompetensi.

Eksistensi : Berasal dari kata bahasa latin existere yang artinya muncul, ada, timbul, memiliki keberadaan aktual. Existere disusun dari ex yang artinya keluar dan sistere yang artinya tampil atau muncul.

Faktor personal : Adalah sesuatu/aspek yang melekat pada diri seorang individu yang mempengaruhi perilakunya.

Validasi : adalah pengesahan atau pengujian kebenaran atas sesuatu


Sumber:

Sulitnya mengerti perilaku seseorang | Beropini eps.51








Play song: Beyoncé - If I Were a Boy

Entah kenapa aku sering banget antipati dengan isu - isu yang beredar di masyarakat. Mulai dari isu patriarki, cara pandang masyarakat, standar masyarakat, rasisme dan segala macamnya yang bikin aku kesal sendiri.

Apalagi aku perempuan, semua tingkah lakuku di dikte abis - abisan. Jangan keluar malem - malem, jangan pake baju yang terbuka, jangan bergalu sama cowok - cowok, jangan terlalu friendly, jangan pinter - pinter amat, jangan banyak protes, jangan terlalu agresif, jangan terlalu mendominasi, terlalu banyak jangan sampai aku mikir jangan jadi perempuan.

"Jadi perempuan itu gampang kamu tinggal duduk manis, ngomong lemah lembut, jangan kebanyakan protes, tugas kamu cuman dapur, kasur, sumur, tinggal nurut aja udah."

Haduh merinding aku dengernya. Perempuan itu manusia utuh juga punya akal dan pikiran, punya opini dan pendapat, punya keinginan dan keharusan, dan perempuanpun butuh kebebasan. Kebebasan dalam hal berekspresi, kebebasan dalam hal pengambilan keputusan, kebebasan dalam hal berpendapat, kebebasan dalam hal memilih, dan kebebasan - kebebasan lainnya.

Perempuan bukan objek yang bisa seenaknya di objektifikasi oleh masyarakat, apa yang ingin dilakukan oleh perempuan tidak sepantasnya di judge dan dilarang seenak jidat. Pandangan bahwa perempuan hanya sekadar opsi tambahan menandakan bahwa masih ada nilai - nilai patriarki dalam budaya masyarakat. 

Gue udah cukup enek dengan semua ini, seakan - akan masyarakat buta dan tuli dengan ketimpangan gender dan tidak menyadari bahwa permasalahan kultur ini tuh sebenarnya sangat merugikan perempuan. Jadi wajar kalau perempuan seresah itu, semarah itu, dan seterkekang itu karena perempuan terbebani dengan stereotipe ini.

Masyarakat seharusnya mencoba untuk memahami hal itu, mencoba lebih mengerti dan lebih peka. Penting juga membantu para perempuan dan memberi ruang untuk perempuan dapat bersuara. Karena melakukan sesuatu untuk mengubah stereotipe ini itu jauh lebih baik jauh memberikan kontribusi dan memberikan kesetaraan di masyarakat. Yang jelas masyarakat itu terlalu rapuh egonya terlalu tinggi untuk mengakui bahwa memang secara sistem perempuan lebih sering di nomor duakan.

^_________^

antipati: rasa ketidaksukaan untuk sesuatu atau seseorang, kebalikan dari simpati. Antipati dapat dirangsang oleh pengalaman sebelumnya, kadang-kadang timbul tanpa adanya penjelasan sebab-akibat yang rasional untuk individu yang terlibat. 

patriarki: sebuah sistem sosial yang menempatkan laki-laki sebagai pemegang kekuasaan utama dan mendominasi dalam peran kepemimpinan politik, otoritas moral, hak sosial dan penguasaan properti. Dalam domain keluarga, sosok yang disebut ayah memiliki otoritas terhadap perempuan, anak-anak dan harta benda. 

rasisme: suatu sistem kepercayaan atau doktrin yang menyatakan bahwa perbedaan biologis ras manusia menentukan pencapaian budaya atau individu – bahwa suatu ras tertentu lebih superior dan memiliki hak untuk mengatur ras yang lainnya.

steriotip: penilaian terhadap seseorang hanya berdasarkan persepsi terhadap kelompok di mana orang tersebut dapat dikategorikan.





play song : The Police - Every Breath You Take

Belakangan ini aku disibukkan dengan menonton series detektif terkenal Sherlock Holmes. Yang mana pada setiap season maupun episode dikemas dengan menarik. Diperankan oleh Benedict Cumberbatch sebagai Sherlock Holmes dan Martin Freeman sebagai Dr. Watson mampu memvisualisasikan karakter - karakter fiksi tersebut dengan brilliant. 

Akuu juga nonton 2 film Sherlock Holmes yang di perankan oleh RDJ dan Jude Law, ini lebih epik karena sinematografi dan live actionnya dapet banget. Ada beberapa judul buku yang sudah aku baca, seperti A Study in Scarlet - Penelusuran Benang Merah

Film, series, dan buku dari Sherlock Holmes digambarkan dengan gaya yang berbeda - beda. Segi latar, dalam film berlatar tahun 1890-an, dalam buku berlatar tahun 1880-an, sedangkan dalam series di gambarkan di era lebih modern berlatar tahun 2010-an. 
Segi Karakter, dalam film memiliki tipe MBTI ENTP, dalam Buku memiliki tipe MBTI INTP, Sedangkan dalam Series Memiliki tipe MBTI INTJ. 
Segi cerita, kalian tonton dan baca sendiri deh.

Ada hal yang lebih menarik yang ingin aku bahas, yaitu one and only the famous detective Sherlock Holmes, dari versi apapun itu. Sherlock Holmes adalah tokoh detektif fiksi rekaan Sir Arthur Conan Doyle, seorang pengarang dan dokter berkebangsaan Skotlandia. Sherlock mempunyai kakak laki-laki bernama Mycroft Holmes, tapi dalam versi novel karya Nancy Springer berjudul The Enola Holmes Mysteries yang rilis tahun 2006 Sherlock mempunya seorang adik perempuan bernama Enola Holmes.

Sherlock menyebut dirinya sebagai seorang "detektif konsultan" dikenal akan ketajaman penalaran logis, kemampuan menyamar, dan keterampilannya dalam menggunakan ilmu forensik untuk memecahkan berbagai kasus. Tidak hanya itu, menurut pengamatan Dr. Watson, Sherlock memiliki sejumlah pengetahuan tentang ilmu tanaman, geologi, dan hukum Inggris; dia memiliki pengetahuan mendalam tentang kimia dan anatomi; dan dia memiliki pengetahuan yang terlampau mendalam tentang kisah-kisah sensasional. Lain dari itu dia pandai bela diri dengan tongkat, tinju, dan pedang. Tentu saja dia adalah pemain biola yang cukup baik. 
Huft, rasanya mustahil bila ada manusia dengan kemampuan begitu banyak seperti Sherlock Holmes. As he said "Pekerjaan saya memang mencari tahu banyak hal. Saya mungkin telah terbiasa melihat hal-hal yang terlewatkan oleh orang lain."

Dibalik kehebatannya dia adalah seorang Anti social. Sherlock hanya punya satu kawan, yaitu Dr. Watson. Hampir tidak ada relasi dengan wanita, bahkan hubungan dengan keluarganya pun tidak akrab. Dan dia juga tidak tertarik untuk berhubungan dengan orang lain di luar penyelidikan kasus, hanya hubungan secara profesional saja. Dan jangan lupa dia itu Sombong, angkuh dan selalu merasa dirinya paling pintar. 
Kasus The adventure of yellow face membuat Sherlock "agak" sadar untuk tidak terlalu over confident. Kasus Irene Adler juga pertama kali sherlock menunjukkan ketertarikan pada lawan jenis yang sanggup mengalahkan dia.
“Saya pernah gagal empat kali – tiga kali digagalkan oleh pria, dan satu kali oleh wanita" The Adventures of Sherlock Holmes – Petualangan Sherlock Holmes

Tapi dari segala kemenarikan itu, yang paling menarik bagiku adalah penggambaran dalam cerita menawarkan pelajaran tentang seni berpikir rasional, yaitu memperhatikan hal - hal kecil "Sejak dulu saya berpendapat bahwa hal-hal kecil itulah yang paling penting." The Adventures of Sherlock Holmes – Petualangan Sherlock Holmes. Ini luar biasa, dimana Sherlock selalu menerka karakter setiap orang yang dia temui berdasarkan petunjuk yang minim (entah itu dari pakaian, aksesoris, struktur fisik dll) bahkan tanpa ia sentuh sekalipun. 

Secara khusus, pentingnya memperhatikan hal-hal yang tampak tidak berhubungan adalah butir yang menginspirasinya. Sherlock juga memperingatkan untuk tidak membiarkan penilaian awal mengaburkan kesimpulan. Baginya, observasi tanpa prasangka adalah prinsip, dalam The Scandal of Bohemia Sherlock pernah berkata kepada Dr. Watson "Kamu melihat tetapi tidak memperhatikan. Perbedaannya jelas." 

Prinsip-prinsip Sherlock hari ini menawarkan pelajaran tentang kekuatan pemikiran logis. Bahkan teknologi paling mutakhir pun tidak bisa menggantikan kekuatan dari observasi sederhana dan penelaahan rasional. Dan kita masih membutuhkan pemikiran tajam untuk menyelesaikan misteri.


“Kau tahu, seorang pesulap tidak akan dihargai sesudah menjelaskan tipuannya, dan kalau kutunjukkan terlalu banyak metode kerjaku padamu, kau akan menyimpulkan bahwa aku orang yang sangat biasa.”
Sherlock Holmes - A Study in Scarlet – Penelusuran Benang Merah

"Sangat penting untuk tidak membiarkan penilaianmu dikacaukan oleh kualitas pribadi. Kualitas emosional merupakan penghalang untuk bisa berpikir jernih."
Sherlock Holmes – Sign of Four – Empat Tanda

"Kerumitan biasanya merupakan produk dari pendidikan yang lebih tinggi."
Sherlock Holmes – Sign of Four – Empat Tanda

"Kita sudah biasa melihat manusia memandang rendah apa yang tidak bisa dipahaminya."
Sherlock Holmes - Sign of Four – Empat Tanda


"Kecenderungan seorang anak dapat terlihat dengan mengamati kedua orang tuanya, begitu juga sebaliknya."
Sherlock Holmes – Sign of Four – Empat Tanda


"Kejahatan yang paling sulit untuk dilacak ialah kejahatan yang tak ada maksudnya."
Sherlock Holmes – Memoirs of Sherlock Holmes – Memoar Sherlock Holmes

Postingan Lebih Baru Beranda

Arsip Blog

  • ▼  2025 (2)
    • ▼  Agustus (1)
      • don’t cry over spilled milk, but it still hurts
    • ►  Juli (1)
  • ►  2024 (1)
    • ►  Januari (1)
  • ►  2023 (5)
    • ►  Oktober (2)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Mei (1)
    • ►  Februari (1)
  • ►  2022 (1)
    • ►  Juli (1)
  • ►  2021 (3)
    • ►  Desember (2)
    • ►  April (1)

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Translate

Popular Posts ๋࣭ ⭑⚝

  • the famous detective
  • jangan jadi perempuan
  • jika aku jadi dia

Label ࿐

  • something about feelings (2)
  • something fun (3)
  • talk to talk (5)
  • what the media doesn't say (2)

hallo 𐙚

hallo 𐙚

Designed by OddThemes | Distributed By Gooyaabi